JAKARTA, Agung Intiland News — Persaingan antara Indonesia dan Vietnam dalam menarik investasi logistik semakin menguat pada awal 2026. Kedua negara dinilai menjadi tujuan utama relokasi manufaktur dan ekspansi rantai pasok di Asia Tenggara, seiring strategi diversifikasi global pascapandemi dan dinamika geopolitik.
Investasi logistik yang dimaksud mencakup:
Pembangunan gudang modern
Pusat distribusi regional
Fasilitas fulfillment e-commerce
Hub logistik untuk ekspor manufaktur
Permintaan terhadap gudang industri Indonesia dan fasilitas logistik terintegrasi meningkat seiring pertumbuhan manufaktur dan konsumsi domestik.
Vietnam dikenal agresif dalam menarik investasi manufaktur berbasis ekspor, khususnya elektronik dan tekstil. Keunggulan Vietnam antara lain:
Integrasi kuat dalam rantai pasok global
Perjanjian perdagangan bebas (FTA) yang luas
Proses perizinan yang relatif cepat
Beberapa kawasan industri di wilayah utara dan selatan Vietnam menjadi basis produksi perusahaan multinasional.
Indonesia memiliki keunggulan pada skala pasar domestik terbesar di ASEAN, populasi lebih dari 270 juta jiwa, serta program hilirisasi sumber daya alam yang memperkuat basis industri.
Keunggulan Indonesia dalam perebutan investasi logistik meliputi:
Pasar konsumsi besar
Jaringan kawasan industri luas (sekitar 175 kawasan)
Infrastruktur tol dan pelabuhan yang terus berkembang
Stabilitas politik relatif
Selain itu, kontribusi kawasan industri terhadap PDB nasional berada di kisaran 9%, menunjukkan sektor ini sebagai tulang punggung ekonomi.
Persaingan regional membuat investor semakin selektif. Mereka mempertimbangkan:
Biaya logistik
Kepastian hukum
Ketersediaan tenaga kerja
Kesiapan infrastruktur
Wilayah seperti kawasan industri Tangerang dinilai memiliki daya saing karena akses ke Tol Jakarta–Merak dan kedekatan dengan Bandara Soekarno-Hatta serta Pelabuhan Tanjung Priok.
Manajemen Laksana Business Park menilai Indonesia tetap kompetitif dalam jangka panjang.
“Vietnam kuat di sektor ekspor tertentu, namun Indonesia unggul pada kombinasi pasar domestik dan potensi hilirisasi. Untuk sektor logistik, kedekatan dengan pusat konsumsi menjadi faktor penentu,” ujar perwakilan manajemen Laksana Business Park.
Menurutnya, kawasan industri yang mampu menyediakan fasilitas gudang modern dengan standar internasional akan memiliki peluang besar memenangkan investasi.
Memasuki semester I 2026, Indonesia dan Vietnam diperkirakan tetap menjadi dua pemain utama dalam perebutan investasi logistik di Asia Tenggara. Kecepatan perizinan, kesiapan infrastruktur, dan stabilitas ekonomi akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah investasi baru. (JP)