JAKARTA, Agung Intiland News - Pasar properti industri di Pulau Jawa menunjukkan tren penguatan pada awal 2026, ditandai dengan meningkatnya permintaan gudang modern dan kawasan industri terintegrasi di koridor barat dan timur Jawa. Hal tersebut disampaikan manajemen Laksana Business Park dalam keterangan resminya di kawasan Laksana Business Park, Tangerang, Banten, Selasa (27/1/2026).
Perwakilan Manajemen Laksana Business Park, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan bahwa sektor logistik dan e-commerce masih menjadi pendorong utama pertumbuhan permintaan ruang industri, seiring ekspansi jaringan distribusi dan kebutuhan efisiensi rantai pasok.
“Sepanjang semester kedua 2025 hingga awal 2026, kami mencatat peningkatan minat tenant terhadap gudang modern dengan spesifikasi tinggi dan akses langsung ke jaringan tol serta pelabuhan utama. Tenant tidak hanya mencari ruang, tetapi juga ekosistem kawasan yang mendukung keberlanjutan operasional mereka,” ujarnya.
Berdasarkan pemantauan internal pengelola kawasan, tingkat okupansi kawasan industri di wilayah barat Jawa, khususnya Banten dan Jabodetabek, berada pada kisaran 75–85 persen, dengan permintaan tertinggi berasal dari perusahaan logistik, distribusi ritel, dan manufaktur ringan.
Selain lokasi, spesifikasi bangunan dan kesiapan infrastruktur menjadi pertimbangan utama calon tenant. Ketersediaan pasokan listrik dan air, sistem drainase, serta infrastruktur digital dinilai memengaruhi kecepatan operasional dan efisiensi biaya jangka panjang.
Dari sisi keberlanjutan, pengelola kawasan mencatat peningkatan permintaan dari perusahaan multinasional yang mengedepankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Kawasan industri dengan program pengelolaan lingkungan dan inisiatif sosial dinilai memiliki nilai tambah dalam proses seleksi lokasi investasi.
Manajemen Laksana Business Park menekankan pentingnya perencanaan infrastruktur jangka panjang serta komunikasi berkelanjutan dengan pemerintah daerah dan masyarakat sekitar guna mendukung iklim investasi yang kondusif.
Meski demikian, tantangan masih dihadapi, terutama terkait proses perizinan dan sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah, serta kesiapan infrastruktur pendukung di luar kawasan inti.
Sebagai pembanding, pelaku industri menilai pertumbuhan kawasan industri di luar Jawa, khususnya di Sumatra dan Sulawesi, mulai menunjukkan akselerasi seiring pengembangan pelabuhan dan kawasan ekonomi khusus. Namun, Jawa masih mempertahankan posisi sebagai pasar utama karena kedekatan dengan pusat konsumsi nasional dan jaringan distribusi yang lebih matang.
Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) wilayah Jabodetabek, dalam keterangan terpisah, menyebut bahwa kebutuhan gudang modern secara nasional diperkirakan tumbuh satu digit tinggi pada 2026, didorong oleh ekspansi e-commerce dan sektor manufaktur ringan. Menurutnya, harmonisasi kebijakan dan percepatan pembangunan infrastruktur menjadi faktor penentu agar pertumbuhan di luar Jawa dapat menyusul pasar di Pulau Jawa.
“Kolaborasi antara pengelola kawasan, tenant, dan pemerintah menjadi kunci agar kawasan industri di Jawa dapat terus tumbuh secara berkelanjutan dan berdaya saing di tingkat nasional maupun regional,” tuturnya. (JP)