Berita

Investasi Manufaktur China ke Asia Tenggara Dorong Permintaan Gudang Industri di Indonesia

Februari 23, 2026

JAKARTA, Agung Intiland NewsArus investasi manufaktur China ke Asia Tenggara semakin intensif dan mulai mendorong peningkatan permintaan gudang industri Indonesia, terutama di wilayah strategis seperti kawasan industri Tangerang dan koridor barat Jakarta.

Relokasi produksi dan diversifikasi rantai pasok global menjadi faktor utama perpindahan sebagian kapasitas manufaktur China ke negara-negara ASEAN. Indonesia termasuk salah satu tujuan utama karena kombinasi pasar domestik besar, insentif hilirisasi, serta ketersediaan kawasan industri terintegrasi.

Lonjakan Investasi dan Dampaknya

Data pemerintah menunjukkan sektor manufaktur masih menjadi kontributor signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, dengan kontribusi kawasan industri terhadap PDB mencapai sekitar 9,44%. Sementara itu, total kawasan industri aktif di Indonesia tercatat sekitar 175 area.

Di sisi properti logistik, pasokan gudang modern di Jabodetabek telah mencapai sekitar 3,1 juta meter persegi, dengan tingkat permintaan yang tetap terjaga seiring masuknya investasi baru.

Peningkatan aktivitas manufaktur secara langsung memicu kebutuhan:

  • Gudang distribusi dekat akses tol dan pelabuhan

  • Fasilitas dengan spesifikasi modern (loading dock, high ceiling, keamanan 24 jam)

  • Kawasan industri dengan legalitas dan infrastruktur siap pakai

Tangerang Jadi Titik Strategis

Wilayah Tangerang menjadi salah satu lokasi yang paling diuntungkan. Kedekatannya dengan Bandara Soekarno-Hatta, akses tol Jakarta–Merak, serta konektivitas menuju Pelabuhan Tanjung Priok dan Patimban menjadikan kawasan ini pilihan utama bagi investor.

Permintaan gudang industri Indonesia saat ini tidak lagi sebatas ekspansi e-commerce, tetapi juga berasal dari manufaktur elektronik, komponen otomotif, tekstil, dan FMCG yang membutuhkan fasilitas distribusi regional.

Pernyataan Manajemen Kawasan

Manajemen Laksana Business Park menyebut bahwa tren investasi manufaktur China membawa dampak nyata terhadap peningkatan inquiry lahan dan gudang. “Investor kini lebih cepat dalam mengambil keputusan, tetapi juga lebih selektif. Mereka mencari kawasan industri Tangerang yang sudah siap infrastruktur, memiliki akses logistik kuat, dan mendukung efisiensi operasional,” ujar perwakilan manajemen Laksana Business Park.

Menurutnya, dalam beberapa bulan terakhir, minat terhadap gudang industri Indonesia menunjukkan kecenderungan stabil dengan potensi peningkatan pada semester I 2026.

Prospek 2026

Dengan dinamika geopolitik global dan strategi diversifikasi produksi perusahaan China, Indonesia diproyeksikan tetap menjadi destinasi utama investasi manufaktur di Asia Tenggara. Dampaknya, permintaan lahan industri dan gudang modern diperkirakan akan tetap positif sepanjang tahun.

Kawasan industri yang mampu menyediakan kesiapan infrastruktur, fleksibilitas ruang, serta dukungan ekosistem logistik diprediksi menjadi pemenang dalam kompetisi regional. (JP)